SELAMAT DATANG DI SITUS BPK PEJAWARAN BLOG INI MASIH DALAM TAHAP PENGEMBANGAN MOHON MAAF APABILA MASIH TERDAPAT BANYAK KEKURANGAN

Minggu, 18 November 2018

KEGIATAN KRPL KWT MELATI DESA DARMAYASA


Pengurus dan Anggota KWT Melati Desa Darmayasa
PEJAWARAN - Seiring dengan pertambahan penduduk dan alih fungsi lahan pertanian yang tidak akan pernah bisa dihentikan, maka berbagai upaya untuk tetap mengusahakan tercapainya kemandirian pangan pun harus terus dilakukan, dievaluasi, diperbaiki dan diapresiasi. Kemandirian pangan yang dicirikan dengan tersedianya pangan yang bergizi dan aman untuk kesehatan dalam jumlah yang cukup sepanjang waktu merupakan keniscayaan yang tidak terbantahkan sehingga pemerintah dan masyarakat harus terus bekerjasama secara kreatif dan kritis dalam mewujudkan dan kemudian mempertahankannya.
Adanya kesadaran atas perlunya kerjasama yang kreatif dan kritis antara pemerintah dan masyarakat untuk mewujudkan kemandirian pangan tersebutlah maka mulai tahun 2012, Kementerian Pertanian melalui Badan Litbang Pertanian bekerjasama dengan masyarakat di beberapa daerah di Indonesia menginisiasi suatu model pemanfaatan pekarangan dan lahan sempit sebagai tempat produksi bahan pangan yang dibutuhkan oleh keluarga Indonesia. Model tersebut diberi nama Model Kawasan Rumah Pangan Lestari (M-KRPL).
Tujuan pengembanngan Model KRPL adalah :
  1. Memenuhi kebutuhan pangan dan gizi keluarga dan masyarakat melalui optimalisasi pemanfaatan pekarangan secara lestari,
  2. Meningkatkan kemampuan keluarga dan masyarakat dalam pemanfaatan lahan pekarangan diperkotaan maupun perdesaan untuk budidaya tanaman pangan, buah, sayuran dan tanaman obat keluarga (toga), pemeliharaan ternak dan ikan, pengolahan hasil serta pengolahan limbah rumah tangga menjadi kompos,
  3. Mengembangkan sumber benih/bibit untuk menjaga keberlanjutan pemanfaatan pekarangan dan melakukan pelestarian tanaman pangan lokal untuk masa depan, dan
  4. Mengembangkan kegiatan ekonomi produktif keluarga sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menciptakan lingkungan hijau yang bersih dan sehat secara mandiri.

Sabtu, 31 Maret 2018

PANEN DAN UBINAN UBI JALAR DESA KARANGSARI BERSAMA PETUGAS BPS

PEJAWARAN - Pemanenan ubi jalar di Desa Karangsari yang biasa dilakukan oleh petani adalah pada umur 3,5-4 bulan. Dengan memerhatikan bagaimana cuaca saat menjelang panen, atau umur tanaman di atas 3 bulan. Umbi siap panen yang tiba-tiba tertimpa hujan deras biasanya akan membusuk. Hal ini terjadi pada budidaya ubi jalar yang dilakukan di musim kemarau. Apabila terjadi hal tersebut segera lakukan pemanenan, maksimal 7 hari setelah hujan. Panen dikatakan berhasil jika tiap satu bibit yang ditanam minimal menghasilkan 1 kg umbi. Secara umum tanaman ubi jalar yang baik dan tidak terserang hama akan menghasilkan umbi lebih dari 25 ton per hektar. Bahkan pada ubi jalar varietas tertentu seperti kalasan bisa menghasilkan hingga 30-40 ton per hektar. Setelah dipanen, ubi jalar dicuci dan disortir kemudian masukkan dalam karung dan simpan ditempat kering sebelum dijual ke pasar .
Hasil ubinan Ubi Jalar Didesa Karangsari adalah 33,5 kg dengan demikian untuk 1 ha Ubi jalar produksi nya sekitar 53 ton. Perkiraan produksi sekitsr 53 ton belum dikurangi presentase galengan sehingga perkiraan produksi akan berkurang. Berdasarkan hasil ubinan yang dilakukan di Karangsari hasil panen terhitung sangat bagus dengan demikian sebagian wilayah di bagian bawah Kecamatan Pejawaran potensial untuk dikembangkan ubi jalar.
Berikut adalah Teknik ubinan yang di lakukan bersama BPS adalah
  1. Menentukan lokasi ubinan 
  2. Luas areal yang akan di ubin 
  3. Melakukan perhitungan dengan langkah kaki normal untuk arah utara selatan dengan batasan batasan lahan yang akan di ubinkan
  4. Melihat angka acak dari pantauan langkah kaki yang telah dilakukan (sesuai buku panduan BPS)
  5. Menentukan angka  telisik/angka random untuk tempat pengambilan pengubinan 
  6. Pengambilan ubinan dilakukan dengan tongkat ubinan yang ada 
  7. Areal yang di ubin dihitung jumlah rumpun yang dipanen dalam luasan 2,5 meter x 2,5 meter 
  8. Ubi di bersihkan dari rumput atau rumpun padi di timbang 
  9. Hasil penimbangan dikalikan 16 maka akan dipeoleh prediksi produksi padi pada luasan 1 ha

Minggu, 25 Maret 2018

BIR PLETOK KWT WIJI UTAMI DESA KARANG SARI

Bir pletok made in KWT Wiji Utami Desa Karangsari



PEJAWARAN -  Adalah minuman khas etnis Betawi. Minuman penyegar berwarna merah ini dibuat dari beberapa campuran rempah, yaitu jahe, daun pandan wangi, dan serai. Warna merah dari minuman ini berasal dari kayu secang. Apabila kita meminum bir pletok, pertama-tama terasa pedas, akan tetapi selanjutnya badan akan terasa hangat pengaruh dari ramuan yang terdapat di dalamnya. Sebotol atau segelas bir pletok mengandung sejumlah senyawa antioksidan yang sangat baik bagi kesehatan tubuh. Senyawa antioksidan ini berasal dari secang (antosianin), jahe (gingerol, shogaol, dan zingerone), dan rempah-rempah lainnya yang memiliki sifat antioksidatif, antiinflamasi, anagesik, dan anti-karsinogenik. Minuman ini juga memiliki khasiat untuk memperlancar peredaran darah pada tubuh, sehingga masyarakat betawi biasa mengkonsumsinya pada malam hari untuk penghangat.
Bahan-bahan yang diperlukan adalah jahe, daun jeruk, cengkeh, kayu manis, kapulaga, serai, kayu secang, daun pandan, pala, serta gula dan garam. Semua bahan dicampur dan direbus hingga mendidih. “Bir” kaya antioksidan ini lalu siap dihidangkan.

PENILAIAN THL TB PENYULUH PERTANIAN TINGKAT PROVINSI DARI BPP PEJAWARAN

Penilaian Lomba THL Penyuluh Pertanian teladan tingkat Provinsi di BPP Pejawaran

#penyuluhpertanian
#thltbpenyuluhpertanian
#thltbpp
#pejawaran
#banjarnegara
 
PEJAWARAN -  Seorang Penyuluh pertanian yang dapat menunjukan prestasi kerja yang baik dalam melaksanakan program pembangunan pertanian, maka perlu diberikan penghargaan sebagai Penyuluh Pertanian Teladan. Pemberian penghargaan tersebut ditujukan untuk meningkatkan motivasi penyuluh pertanian dalam melaksanakan kegiatan penyuluhan pertanian. 
Penetapan Penyuluh Pertanian Teladan dilaksanakan melalui proses penilaian yang obyektif, transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Hasil penilaian tersebut harus memberikan gambaran yang akurat dan terukur terhadap kinerja Penyuluh Pertanian yang dinilai. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam penilaian Penyuluh Pertanian Teladan, adalah: (1) penilaian harus mempunyai hubungan dengan kinerja Penyuluh Pertanian yang dinilai; (2) adanya standar atau ukuran yang dipakai untuk menilai kinerja Penyuluh Pertanian; dan (3) sistem penilaian yang mudah dipahami dan dimengerti.
BPP Pejawaran mewakili Kabupaten Banjarnegara mengirimkan delegasi yaitu Bapak Miftakhul Mutaqqien untuk mengikuti lomba THL TB Penyuluh pertanian tingkat Provinsi Jawa Tengah. segala persiapan telah di buat seperti profil penyuluh pertanian, profil wilayah binaan dan hasil kinerja yang didapat di tingkat kelompok tani. Semua profil dan dokumentasi kegiatan telah dikirim ke Tim verifikasi dan panitia lomba tingkat provinsi dan alhamdulilah masuk 6 besar Provinsi jawa tengah. Selanjutnya diadakan Verifikasi faktual di BPP Pejawaran dan Wilbin. Kunjungan agar tim penilai lebih mengenal seccara mendalam dan dapat menilai secara obyektif kondisi riil di lapangan sekaligus untuk presentasi dari Bapak Miftah mengenai semua profil yang telah dikirimkan ke tim penilai dan selanjutnya di nilai oleh tim verifikator. 

Jumat, 23 Maret 2018

PERAWATAN ANAK KAMBING PE POKTAN SIDO MULYO DESA RATAMBA

PEJAWARAN - Usia kehamilan Kambing Etawa biasanya berkisar antara 150 hari, kemudian biasanya anak kambing etawa atau biasa disebut cempe akan lahir. Saat kelahiran Kambing Etawa memang memerlukan perawatan dan penanganan lumayan serius agar cempe bisa selamat. Kambing Etawa yang akan melahirkan lebih baik di pisahkan dengan kambing yang lain hal ini bertujuan untuk menghindarkan agar anak yang  akan lahir nanti tidak terinjak oleh kambing yang lain. 
Sesaat setelah anak kambing etawa lahir, kemudian segera diangkat dan disisihkan dari induknya.hal ini bertujuan untuk menghindari cempe terinjak atau tertindih oleh induk sendiri, karena induk yang melahirkan kadang suka berjalan,Anak kambing etawa atau cempe yang baru lahir kondisinya sangat rawan dan lemah,
Anak kambing etawa  yang baru lahir  kemudian di bersihkan dengan kain kering atau handuk, terutama pada bagian muka/hidung, karena anak kambing yang baru saja keluar biasanya hidungnya terganggu/tertutup oleh lendir, yang bisa menganggu atau mempersulit anak kambing untuk bernafas.
Anak kambing etawa  yang sudah kering, biasanya kemudian disiram dengan air kelapa muda., dengan tujuan agar bersih dari kotoran dan agar induknya bersemangat untuk menjilati anak yang baru lahir ,
Waktu normal yang dibutuhkan untuk berdiri cempe biasanya tidak lebih dari 2 jam. Anak kambing etawa bisanya memiliki waktu normal sekitar 2 jam untuk bisa berdiri sendiri. Biasanya cempe pada awal-awal menyusui akan merasa kesulitan dalam mencari putting susu induk hal ini mengharuskan kita membantu anak kambing tersebut menyusu ke induknya, pada umum nya memerlukan waktu selama 3 hari untuk anak kambing etawa  untuk benar-benar bisa berdiri sendiri dengan tegak dan menyusu pada induknya.
Setelah anak kambing bener-benar kuat, biarkan selama 24 jam dalam seminggu dicampur cempe dengan induk, agar masa susu kolostrum induk benar-benar habis. Kalau susu kolostrum pada induk sudah habis, setelah itu anak kambing etawa di pisahkan kembali dengan induk agar anak kambing etawa hanya menyusu induknya 2 kali sehari hal ini bertujuan saat anak kambing etawa akan menyusu ke induk, posisi ambing sudah benar-benar penuh dan anak kambing etawa  akan minum susu induknya sampai benar-benar kenyang.

Kamis, 22 Maret 2018

KEGIATAN STANDARISASI KUALITAS BAHAN BAKU KOMODITAS TEMBAKAU DI KEC. PEJAWARAN

PEJAWARAN - Pada tanggal 14-15 maret 2018 diadakan Kegiatan Standarisasi Kualitas Bahan Baku Komoditas Tembakau yang berlokasi di Desa Karangsari Kec. Pejawaran. Kegiatan ini dihadiri oleh petani tembakau dari lima Desa yaitu Desa Karangsari, Desa Giritirta, Desa Pegundngan, Desa Sarwodadi dan Desa Semangkung. 
Latar Belakang kegiatan ini adalah  Pemerintah sangat konsen dalam mempengaruhi terlaksananya standar mutu pada produk-produk pertanian salah satunya adalah komoditas tembakau melalui kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk mengatur standarisasi mutu produk pertanian Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.
Dalam mempertegas penerapan standar mutu di Indonesia, badan-badan yang mengeluarkan dan yang mengawasi standar mutu hendaknya berperan aktif dalam penerapannya agar industri-industri tembakau tidak mengabaikan kualitas dan keamanan akan kanduangan produk yang diproduksi demi keselamatan konsumen dan lingkungan. Serta diberikannya pengetahuan dan sosialisasi akan pentingnya standarisasi produk pertanian termasuk tembakau dalam menunjang ekonomi nasional.
Standarisasi dan Pengawasan mutu merupakan sarana untuk meningkatkan daya saing produk baik. Pengawasan mutu ini juga bertujuan untuk mencegah produk-produk dalam negeri maupun ekspor berada dibawah mutu standar. Pelaksanaan standarisasi dan pengawasan mutu dilakukan melalui kegiatan pengujian di laboratorium penguji, untuk mengetahui produk telah memenuhi persyaratan atau standar yang di acu. Untuk itu kompetensi laboratorium penguji sangat diperlukan bahkan sangat menentukan terhadap kebenaran hasil uji produk.

Rabu, 21 Maret 2018

PELATIHAN PENGOPERASIAN DAN PERAWATAN CULTIVATOR SECARA SWADAYA DI LAHAN BPP PEJAWARAN

PEJAWARAN - Teknologi alat dan mesin pertanian (alsintan) terus berkembang dan semakin canggih, semakin mudah digunakan, semakin cepat dan menghemat biaya pengolahan lahan pertanian sehingga akan lebih efisien dan murah. Kehadiran mesin traktor atau cultivator yang mudah dikendalikan dan dapat menggantikan fungsi cangkul atau bajak dengan tenaga manusia atau hewan. 
Cultivator adalah alat pertanian yang berfungsi sama seperti traktor yang digunakan untuk mengolah tanah dalam rangka persiapan tanam sebelum tanam tetapi hanya di khusus kan untuk lahan kering bukan sawah. jadi cultivator mempunyai spessifikasi tersendiri hanya untuk lahan kering bukan untuk mengolah tanah sawah. Cultivator mempunyai bentuk yang lebih kecil, ringan dan simpel sehingga mudah untuk mobilisasi ke lahan yang jauh dari jalan.
Banyak petani dan kelompok tani Kecamatan Pejawaran belum bisa mengoperasikan cultivator yang sesuai dengan standar karena kuarangnya pengetahuan dan ketrampilan operasional cultivator. Perawatan yang sesuai standar cultivator juga harus dikuasai para petani agar mesin cultivator tetap awet tahan lama dan nyaman untuk digunakan. Atas dasar inilah BPP Pejawaran dan Kelompok tani berinisiatif mengadakan pelatihan operasional dan perawatan cultivator dengan mengundang teknisi produsen cultivator yang menguasai. Semoga dunia pertanian Indonesia bertambah maju. Amin

Selasa, 20 Maret 2018

PELATIHAN OLAHAN TALAS UNTUK KWT DI BPP PEJAWARAN BERSAMA DISPERINDAKOP BANJARNEGARA

PEJAWARAN - Talas merupakan salah satu jenis tanaman umbi-umbian yang dapat tumbuh dengan subur di wilayah Indonesia. Tanaman talas memiliki bentuk daun yang unik karena menyerupai hati atau perisai. Tanaman talas tidak hanya dapat tumbuh subur di Indonesia saja namun tanaman ini dapat tumbuh subur hingga ke penjuru dunia. Salah satu daerah yang berada di Indonesia dan terkenal sebagai penghasil talas adalah Bogor. 
Talas terkenal sebagai bahan pangan namun perlu Anda ketahui jika tidak semua jenis talas dapat dimakan. Ada jenis talas yang tidak bisa dikonsumsi. Talas tersebut jika dikonsumsi akan menimbulkan rasa gatal-gatal. Talas yang tidak dapat dikonsumsi biasanya hanya digunakan sebagai pajangan dan sering digunakan untuk pakan ikan. Tanaman talas tidak hanya digunakan sebagai bahan makanan saja namun tanaman ini dapat digunakan sebagai obat dan pakan ternak. Hal inilah yang membuat tanaman talas banyak dicari dan disukai oleh berbagai kalangan masyarakat secara luas. Saat ini budidaya tanaman talas memiliki potensi yang sangat menggiurkan untuk dilakukan. Budidaya talas bisa dikatakan cukup mudah dan tidak terlalu sulit seperti yang Anda bayangkan
Banyak yang tidak mengetahui bahwa tanaman talas banyak dikembangkan di Banjarnegara khususnya Kecamatan Pejawaran. Talas di Pejawaran punya nama daerah yaitu "Tales Begug". Talas di Pejawaran banyak dibudidayakan sebagai tanaman tambahan saja belum benar-benar dibudidayakan secara intensif. Padahal satu tanaman talas bisa menghasilkan hingga 15 kg umbi talas dengan harga sekitar Rp 7.000/kg dengan cita rasa yang enak dan tidak kalah dengan talas Bogor yang pulen dan bertekstur halus. Di Pejawaran perlu adanya pelatihan budidaya talas sebagai alternatif budidaya sayuran sehingga bisa memberikan produksi talas yang maksimal. selain pelatihan budidaya perlu adanya pelatihan pasca panen dan pengolahan talas sehingga talas Togog Pejawaran bisa memberikan nilai tambah optimal yang dapat memberikan keuntungan berlipat kepada petani talas khusunya di Kecamatan Pejawaran.

PRAKTEK PEMBUATAN PAKAN SILASE DI POKTAN KARYA LINMAS DESA CONDONGCAMPUR

PEJAWARAN - Silase adalah pakan yang telah diawetkan yang di proses dari bahan baku yang berupa  tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainya, dengan jumlah kadar / kandungan air pada tingkat tertentu kemudian di masukan dalam sebuah tempat yang tertutup rapat kedap udara, yang biasa disebut dengan “Silo”, selama kurang lebih tiga minggu. Di dalam silo tersebut  tersebut akan terjadi beberapa tahap proses anaerob (proses tanpa udara/oksigen), dimana “bakteri asam laktat akan mengkonsumsi zat gula yang terdapat pada bahan baku, sehingga terjadilah  proses fermentasi. Silase yang terbentuk karena proses fermentasi ini dapat di simpan untuk jangka waktu yang lama tanpa banyak mengurangi kandungan nutrisi dari bahan bakunya.
Bahan silase terbaik adalah rumput gajah/raja (Penisetum purpureum) dan  rumput benggala (Pinicum maximum)  hasil budidaya. Bahan terbaik lain adalah batang jagung (tebon) muda, atau tebon hasil budidaya baby/sweetcorn. Sebab tebon babycorn/sweetcorn, daunnya masih hijau dan batangnya juga masih sangat lunak.  Rumput liar yang heterogen pun, sebenarnya bisa pula dijadiken silase. Demikian pula halnya dengan jerami padi, batang/daun kacang tanah dan ubi jalar. Di Lampung, kulit singkong dan nanas pun dijadikan silase untuk pakan sapi. Di Malaysia, pelepah dan daun sawit tua juga dicacah dan dijadikan silase. Hingga sebenarnya, bahan untuk dijadikan silase sangat beragam. Tergantung kejelian kita dalam menemukan dan memanfaatkan limbah pertanian tersebut.

TEBAR BENIH IKAN DI DESA SARWODADI

PEJAWARAN - Semakin berkurangnya ikan di sungai, akibat tingginya penangkapan ikan, semakin berkurangnya jenis ikan lokal dan kerusakan lingkungan sekitar sungai, menjadi perhatian Pemerintah Banjarnegara. Karena itu sebagai upaya mengembalikan jumlah populasi ikan di perairaan umum, seperti sungai di lingkungan masyarakat. Dinas Pertanian dan Perikanan Banjarnegara, BPP Pejawaran, KEcamatan Pejawaran, Perangkat Desa Sarwodadi beserta masyarakat secara bersama-sama menebar 20 ribu benih ikan di Sungai di Desa Sarwodadi Kecamatan Pejawaran. 
Tidak hanya menebar benih ikan, kegiatan tebar benih ikan juga memberikan penyuluhan agar masyarakat tidak memangkap ikan dengan alat bantu yang  mengganggu dan merusak berkelanjutannya sumber daya ikan dan mengajak kepada warga agar bersama-sama menjadikan sungai sumber protein, bukan sebaliknya menjadikan sungai sember penyakit. Penyuluhan juga berisi ajakan kepada masyarakat agar gemar memakan ikan. Gerakan Memakan Ikan bukan hanya gerakan tetapi memakan ikan air jauh lebih baik dari pada memakan daging dan telur.

Minggu, 18 Maret 2018

DOKUMENTASI KEGIATAN BPP PEJAWARAN


Penyerahan bantuan domba batur oleh bupati banjarnegara di Desa Giritirta

#penyuluhpertanian
#pejawaran
#banjarnegara
PENYERAHAN BANTUAN DOMBA BATUR OLEH BUPATI BANJARNEGARA KEPADA KELOMPOK TANI PENERIMA DI DESA GIRITIRTA

PELATIHAN PENGOLAHAN PANGAN LOKAL UNTUK KWT KEC. PEJAWARAN

PEJAWARAN - Pelatihan Peningkatan Usaha Olahan Pangan Lokal yang diselenggarakan oleh BPP Kecamatan Pejawaran melalui kegiatan penyuluhan dan pendampingan bagi pertanian dilatar belakangi adanya kebijakan pemerintah tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan yang bersumber pada bahan pangan lokal. Sasaran kegiatan pelatihan ini adalah Kelompok Wanita Tani (KWT) agar nantinya dapat tercipta suatu Usaha Kecil dan Menengah yang mengolah aneka olahan pangan lokal. 
Ketersediaan sumber bahan pangan lokal di banyak wilayah di Pejawaran cukup melimpah. Meskipun di beberapa daerah produk pangan lokal tersebut sudah umum dimanfaatkan sebagai bahan pangan, namun demikian pemanfaatannya masih belum banyak ragamnya. Masih ada anggapan bahwa pangan lokal tersebut bernilai inferior (murahan; status sosialnya rendah), padahal sebenarnya bahan pangan lokal menyimpan potensi untuk dikembangkan melalui diversifikasi olahan. Salah satu bahan pangan lokal tersebut adalah ubi ketela dan talas. 
Melalui dilaksanakannya kegiatan pelatihan untuk KWT diharapkan dapat 
  1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta merubah sikap bagi anggota KWT tentang penganekaragaman konsumsi pangan lokal
  2. Meningkatkan kesadaran anggota KWT dalam mengkonsumsi bahan pangan agar tidak tergantung pada satu jenis bahan pangan
  3. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta merubah sikap bagi anggota KWT tentang cara pemupukan permodalan dari pihak perbankan
  4. Meningkatkan motivasi, partisipasi dan aktivitas anggota KWT dalam penganekaragaman konsumsi pangan melalui penguatan kelembagaan dan pemberdayaan kelompok
  5. Mampu menciptakan dan menggerakkan suatu Usaha Kecil dan Menengah dibidang olahan pangan lokal.